Cinta Produk Dalam Negeri Lewat Kaos Distro


Aneka kaus lucu warna-warni tergantung di berbagai stan. Ada pula sepatu berbagai model, tas dengan berbagai bentuk hingga celana panjang, celana pendek, jaket dan topi menggoda mata pengunjung yang datang di pameran Exhibition Room 2010 di Solo Diamond Convention Center, Jumat (7/5).
Ada 61 stan yang menawarkan produk distribution outlet atau distribution store (distro) yang meramaikan pameran yang berlangsung hingga Minggu (9/5) di Kota Solo.
Peserta pameran berasal dari Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Malang, dan Solo. Para peserta pameran ini memproduksi sendiri produk sandang (clothing) yang ditawarkan di tiap stan.
Sejak 10 tahun terakhir, distro dengan produksi clothing berbasis industri rumah tangga muncul di mana-mana. Pasarnya mayoritas anak muda yang ingin tampil beda.
"Saya lebih suka ke distro karena koleksinya terbatas, jadi enggak takut ada kembarannya kalau jalan-jalan. Paling sering, saya membeli kaus atau sepatu bot," kata Rirri (16), siswa SMA Negeri 6 Solo, yang tengah mengunjungi pameran tersebut.
Setiap distro, memang biasanya hanya mengeluarkan produk dalam jumlah terbatas yang dibedakan variasi warna dan desainnya. Distro juga harus pintar-pintar membaca selera pasar yang sedang berjalan, terutama menghadapi anak muda yang kerap berubah-ubah keinginannya.
Distro Setia Jaya dari Bandung misalnya, Distro ini mengeluarkan tiga merek, memilih desain untuk perempuan muda usia 15-30 tahun. Setia Jaya, menurut Wandi Surya dari bagian umum, memiliki outlet di Bandung, Yogyakarta, Solo, Purwokerto, Balikpapan, dan Bali dengan jumlah pekerja sekitar 150 orang.
Bicara soal bisnis produk distro ini, dalam beberapa tahun terakhir di Kota Solo perkembangan distro menunjukkan tren pertumbuhan.
Salah satunya Jelly Mint yang baru berdiri beberapa bulan. Pilihannya cukup berani, memproduksi clothing dengan sentuhan motif batik.
"Kain motif batiknya hanya untuk aksen atau kalaupun banyak dipakai, dipilih dari motif batik yang abstrak agar disukai anak muda," kata Cindy dari Jelly Mint.
Ketua Panitia Exhibition Room 2010, Yusriandi, mengatakan, munculnya usaha distro berdampak pada perekonomian, karena menyerap tenaga kerja dan memberdayakan ekonomi lokal.
Kabar gembira lainnya, label lokal produksi distro ternyata mampu menyaingi label impor, seperti Billabong atau Quiksilver.
"Dari segi desain, produk distro tidak kalah dan lebih mengerti selera pasar. Harganya juga cukup bersaing sehingga menumbuhkan minat pada produksi lokal," kata Yusriandi. (eki)

Comments are closed.