MuDAers pasti pernah ke distro dong? Meski hanya sesekali, barang-barang di distro masih dicari lho. Kalo anak cowok, biasanya ke distro untuk mencari kaus oblong yang unik-unik.
Pada awal tahun 2000-an, distro menjamur di mana-mana, baik di Bandung, Jakarta, dan kota-kota besar lainnya. Enggak ke distro, enggak gaul deh.
Seiring berjalannya waktu, jumlah distro semakin banyak dan baju-baju bikinan luar negeri dengan merek besar semakin menyerbu pasaran. Ancaman lain yang dihadapi distro adalah banyaknya toko besar yang mempunyai nama, tapi menjual kaus dengan label distro. Padahal, yang dijual di toko besar diproduksi sampai ribuan jumlahnya. Sedangkan distro biasanya hanya memproduksi 60-200 kaus setiap desain. Makanya, pengelola distro harus lebih kreatif memproduksi berbagai jenis produknya. Biar enggak pasaran.
”Paling enggak sebulan sekali kami ke sini, mencari model yang baru,” kata Fachry, yang datang dari Depok yang siang itu bolak-balik menyusuri Jalan Tebet Utara. Dia mencari oblong di jejeran distro di jalan itu.
”Sebenarnya lebih bagus sih di Bandung, tapi kan kejauhan. Jadi seringnya ke sini,” katanya.
Bukan hanya cowok yang kerap mencari baju ke distro. Dewi Ekasari yang tinggal di kawasan Pasar Minggu, Jaksel, juga sering menyambangi distro di Tebet. Meski tidak berniat membeli, Dewi paling tidak dua minggu sekali mengunjungi distro hanya untuk melihat model-model terbaru.
”Dekat dengan rumah, sekali naik bus sudah sampai ke sini. Kalau pas ada yang cocok, saya sih pasti beli,” ujar Dewi.
Untuk bertahan di bisnis distro enggak mudah lho MuDaers. Mesti kreatif jualan juga. Kini, distro enggak cuma ngejual barang dagangan di tokonya saja. Gaya belanja masa kini dengan sistem online juga dilakukan distro. Lagian, pembeli lebih suka menggunakan jasa belanja online ini.
”Sekarang kadang-kadang orang malas pergi ke toko, mendingan buka internet, terus belanja. Banyak pelanggan kami yang belanja online , baik di Jakarta atau luar daerah. Bahkan, ada yang dari luar negeri,” ungkap Public Relation PT Endorsindo Makmur Selaras Frissy Bella Apriditha alias Sissy.
PT Endorsindo mempunyai tiga toko, yaitu Bloop, Endorse, dan Urbie. Untuk setiap desain akan dibuat sebanyak 60 unit. Produk kaus dibanderol dengan harga Rp 95.000-Rp 130.000. Dalam sehari, setiap distro bisa menjual sekitar 100 kaus.
”Kalau modelnya lagi banyak disuka pembeli, dalam waktu satu sampai dua minggu sudah habis. Seperti kaus yang bergambar Bagus Netral, cepat sekali habisnya,” kata Sissy.
Strategi lainnya, Bloop dan Endorse juga menggandeng artis-artis untuk desain-desain baju. Selain Bagus Netral dengan kausnya yang unik, ada juga Widi Kidiw (Viera) dan Naif. Selain itu, juga ada blogger fashion Diana Rikasari yang mendesain baju-bajunya sendiri untuk dijual di distro Endorse.
Minat muDAers dengan barang-barang di distro yang tetap besar juga terbukti di Unit 67, distro yang baru buka enam bulan lalu. Distro ini menjual kaus-kaus bertema band-band underground dan mengkhususkan pada merchandise musik. Pemilik Unit 67, Bani Terasyailendra, mengungkapkan, dalam satu bulan bisa menjual 30-35 kaus.
”Bulan pertama sampai ketiga belum terlihat penjualannya, semakin lama semakin naik grafiknya. Omzet penjualan bisa sampai 80 persen. Pembelinya anak-anak muda yang memang ngefans dengan band-band aliran punk, metal,” ujar Terasyailendra.
Penjualan yang tinggi membuat stok Bani sudah habis. ”Hanya tinggal barang yang di- display saja. Kalau mereka penggemar fanatik pasti akan membeli jika ada kaus baru,” cerita dia.
Begitu pula distro yang terletak di kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat. Dengan lokasi yang strategis, distro ORK 689 banyak diminati kaum muda. Barang-barang yang ditawarkan juga lebih variatif. ”Sebagian besar barang di sini buatan kami sendiri. Seperti tas, baju, dan sandal jepit merupakan kreativitas kami,” kata Heri yang menjaga ORK 689.
Nah, intinya, siapa berani kreatif dan unik pasti banyak dicari.... (SIE/BEE)
Kreativitas Nomor Satu!
Distro singkatan dari distribution store atau distribution outlet yang menjual pakaian dan aksesori produk lokal. Kebanyakan barang yang dijual adalah kaus oblong dengan berbagai model dan desain. Ada beberapa macam cara mengisi distro. Ada yang mengisinya dengan produk sendiri, ada pula dengan mengambil barang dari tempat lain. Sebagian besar distro merupakan industri kecil dan menengah.
Apa pun caranya, yang pasti barang yang dijual di distro terbatas alias limited edition untuk memberikan kesan eksklusif. Desainnya pun dibuat eksklusif. Untuk satu desain baju, distro hanya membuat sekitar 60-200 unit. Desain yang eksklusif dan terbatas membuat distro harus terus menggali potensi kreatif dari para krunya. Tidak jarang, mereka juga menyewa desainer paruh waktu.
Pada awal tahun 2000-an di Bandung, band-band independen menjual pernak-pernik seperti kaset, cakram padat, kaus, dan stiker kepada penggemarnya. Pernak-pernik itu dijual bukan hanya ketika mereka manggung, tetapi juga di rumah-rumah yang disulap menjadi toko. Berawal dari situlah distro menjadi semakin terkenal. Kreativitas, merek independen, harga terjangkau, kemudian muncullah distro.
Dari sisi kualitas, produk yang ditawarkan di distro enggak kalah dibanding merek luar negeri. Mulai dari baju, kaus, tas, aksesori, sampai sandal dan sepatu, banyak memiliki keunikan masing-masing. Apalagi, diproduksi dengan jumlah terbatas, jadi modelnya enggak pasaran.
Penampilan distro juga dibuat semenarik dan senyaman mungkin bagi pengunjungnya. Penataan barang dibuat seapik mungkin. Dari penampilan tokonya terlihat, distro bukan sekadar menjual barang, tetapi juga mengedepankan kepuasan konsumennya. (SIE)
